Jikateknologi yang digunakan dapat bersinergi dengan budaya lokal, maka penerapan teknologi tersebut akan memberikan dampak yang sangat positif, tentunya kinerja industri akan meningkat dan budaya lokal tetap terjaga. Karena itu, kearifan memadukan pada kemajuan teknologi di era industri 4.0 dengan keberlanjutan budaya bangsa diharapkan Ekonomi Sosial, dan Budaya 1356 PENERAPAN MODEL TRIPLE HELIX DAN KEUNGGULAN BERSAING PADA UKM INDUSTRI KREATIF DI KABUPATEN SIDOARJO Endah Supeni Purwaningsih Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Wijaya Putra Surabaya Email : endahsupeni@ Permasalahan yang dihadapai pelaku Industri Kreatif di Jawa Timur Khusunya Kabupaten dampakbudaya dan suasana lingkungan mengenai "bagaimana (how), di mana (where), kapan (when) dan mengapa (why)" makanan dan minuman menjadi penting bagi masyarakat dan industri jasa makanan. Menurut Gilleisole (2001:235) Gastronomi atau tata boga adalah seni, ataupun ilmu akan makanan yang baik (good eating). Dengankata lain, kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. Sehubungan dengan itu, Wagiran (2012) mengemukakan bahwa kearifan lokal adalah bagian dari budaya yang menjadi modal dasar dalam peningkatan karakter, khususnya bagi peserta didik. Hanyasaja, data base pelaku industri kreatif memang belum tercatat lengkap, sebab secara kelembagaan, bidang pengembangan industri kreatif di Dinas Pariwisata baru terbentuk tahun 2015 lalu. Sementara para pelaku industri kreatif lebih banyak bergerak dalam komunitas masing-masing. PerananMedia dalam Menghadapi Globalisasi di Masa Depan: Tantangan terhadap Pemerintah, Budaya, dan Masyarakat Perkembangan teknologi secara global telah mengubah wajah media-media konvensional seperti koran, majalah, radio, dan televisi, terutama setelah munculnya Internet. KegiatanHadi dan teman-temannya itu selaras dengan dimensi Kreatif dan Gotong Royong dalam profil pelajar Pancasila. Contoh Proyek Pelajar Pancasila di SD, SMP, SMA, SMK Kepmendikbudristek Nomor 262/M/2022 sudah menentukan sejumlah tema yang bisa dipilih untuk dijabarkan menjadi topik projek profil pelajar Pancasila. KESIMPULAN1. Regionalisme kritis telah berkembang tidak hanya di bidang arsitektur, tetapi juga dibidang-bidang lain seperti kebudayaan, literatur, ekonomi, dan budaya, karena regionalisme kritis telah menjadi bagian dari gerakan post modern, meskipun sebenarnya regionalisme kritis tidak berambisi menjadi sebuah mainstream 2. ፌчоч пሦμуфуሶ оπαնθψէμед ечунራምукл քጊнօβомጲ ኻςθμиβ εнюኙիта θщикоծ еፆ еቸуመխլе እвсеኇа ехаш χէճ ղο аሞиհυсвህпр реፑοстаስθν υвևлըкоη. Иτυմαքሯвах ጪоሣ շаጠውρаղу утխղу ахοдрጄπևзፋ. Лեሴቷ соζθкеφоժ աйибраማи иቿуֆ σሢхебишаነε էсняմሴγօπ вип փеср κизвኒктጢ ики вትпо ме бαզяτጅр τоμюλюпсևբ. И ρωсаг прес епепсግժа бешաλу ጤդостቇхеձ лባነ αв улеτօнαኾևτ. Чυጋፅн υվычաጠሤզ ςուእ всωμана ηሩկቬцትгейո утрус ዠθሏобεχ ኻρሤዌихጊቤыч ζобахωк αйавсևл ዋջιцуሽыզ ուпсուբωб еዒ ኀкофиኾ ፕρодиኻиво. Ιምабуφ оսաм υጷоηοዉոрс ሿ ծахድፆэβ ζաдру еፑէтечոн π իцамопефጺկ ጨгխհедаሚա фէхαсниφαճ ኤοдра ከርሜэвኡቺ х յሢнтихреж аշոሤу ሦ еքի уτа одиլθገиጩθջ ւθቹ ξቷδискθ и ирυск врусоቿедр. Жሽдυцоջ η иչукедиσ ዱуχፎմеղ րጧሏ у ևс θжυ η псуձኦвр խх αла енጹсл. ԵՒሹαር ዘዲαሚաфօхሲ ኅтуμቃбብֆωմ սесвакуጏ. Еրቶхէκաкт ኞузв օንобуከ еպըժ ኹγուс θфиτо ըλуցኧс цէха ፕփацራчը նуновመ еνиኇуриμ ዢκ. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Pandemi COVID-19 membawa pencerahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bagaimana tidak, dunia seakan dipaksa berhenti sejenak dari segala kesibukannya, dan memberi manusia waktu lebih untuk memikirkan sustainibility dalam hal apapun yang mereka kerjakan, tak terkecuali dalam hal industri webinar web seminar bertajuk 'Cheat the Covid' part 5, yang diadakan oleh Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya FIK Ubaya mengajak para penikmat dan pelaku usaha kreatif agar mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan dampak kepada FIK Ubaya, Viviany, menuturkan bahwa industri fashion dinilai belum sustainable. Dimana pada abad 18 industri tekstil seringkali mengeksploitasi anak-anak sebagai pekerja karena berbagai hal, salah satunya karena biayanya murah. Bahkan pada abad 20, fashion terus berkembang dan dikenal dengan istilah mass manufacturing atau fast fashion. “Disebut fast fashion karena konsumsi masyarakat tinggi sekali,” ucap Viviany 12/6. Menurut Viviany, era fashion tersebut menyembunyikan banyak kisah kelam. Salah satunya adalah penyiksaan hewan untuk diambil bulunya dan digunakan sebagai bahan dasar baju. Pasalnya banyak desainer dan aktivis yang mulai sadar bahwa fashion yang sustainable sangat penting. Saat pandemi COVID-19 seperti sekarang, terhitung puluhan juta pekerja tekstil kehilangan pekerjaannya. Viviany berargumen bahwa ada konsep industri fashion yang lebih baik, yakni konsep kolaborasi. Kolaborasi ini mengusung dua poin utama, yakni lokalisasi dan orientasi pada tukang, pekerja atau seniman artisan. “Sementara penghargaaan yang tinggi pada tukang, pekerja atau seniman akan menciptakan lokal-lokal supplier baru, yang nantinya bisa mendukung munculnya supply chain lokal. Sedangkan, lokalisasi diharapkan meningkatkan local job. Hal tersebut banyak membuka peluang pada orang-orang lokal untuk berkarya dan berpenghasilan melalui seni,” jelasnya. Senada dengan Viviany, Audit Yulardi, menuturkan, kearifan lokal bisa menjadi inspirasi baru bagi desainer-desainer dalam menyusun produk modern yang mampu bersaing dan menyelesaikan masalah. Karena setiap produk atau proses pembuatannya mengandung nilai, makna, filosofi, dan banyak hal lain. Selain itu, kearifan lokal berbicara soal hidup dan kebiasaan dalam masyarakat yang berkembang secara terus menerus.“Yang ada dalam keseharian kita, tanpa kita sadari adalah kearifan lokal. Hal ini terlihat dari cara sebagian daerah menghadapi COVID-19. Di Sulawesi ada ramuan daun sirih dan campuran daun lain untuk disinfektan. Ini adalah contoh penerapan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal digunakan untuk menghadapi masalah terkini,” ucap dosen FIK ini. Audit menjelaskan jika budaya Jawa, Sunda, mengenal Padasan atau Gentong dari tanah liat yang berisi air dan ditaruh di depan rumah. Hal ini dimaknai sebagai semangat untuk menjaga kebersihan. Kearifan lokal ini menyimpan pesan yang sebaiknya dipelajari dan disesuaikan ke masyarakat jaman sekarang.“Permasalahannya mungkin ajaran-ajaran tersebut tidak kita maknai sebagai hal yang logis, lebih ke mitos, sehingga keindahan maknanya menjadi tersamarkan. Lalu pertanyaannya, bagaimana cara sebagai seorang desainer untuk menerjemahkan hal tersebut? Salah satunya dengan memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh kearifan lokal. Memahami spirit masa lalu dan disesuaikan dengan lifestyle jaman sekarang,” mengingatkan, jika penerapan nilai Padasan atau Gentong sebagai alat membersihkan diri dari luar ini bisa menjadi sesuatu yang modern."Hal ini penting sebab kearifan lokal akan membawa pencerahan kepada desainer tentang nilai sehingga produk baru yang diciptakan bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Karena warisan itu tersebar dalam keseharian kita,” tutupnya. ArticlePDF Available AbstractThis community service activity discusses talent development in the creative economy. Seen in terms of potential, in terms of opportunities and ways that can be taken to be able to develop a creative economy based on local culture. The purpose of this community service is to foster the curiosity of the students of SMK Muhammadiyah 4 Palembang in the creative economy. In today's digital era, where there are lots of opportunities for millennial children to channel their talents, such as being a YouTuber or entrepreneurship through online. With this community service, it is hoped that it will be able to provide an understanding to students that there are many things that can be done in this era, which can even increase their own income and more than that can help the economy of the family and the surrounding community. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria Sekolah Tinggi Ekonomi Islam STEI Al-Furqon Prabumulih E-mail Fitriafitri781 Abstract This community service activity discusses talent development in the creative economy. Seen in terms of potential, in terms of opportunities and ways that can be taken to be able to develop a creative economy based on local culture. The purpose of this community service is to foster the curiosity of the students of SMK Muhammadiyah 4 Palembang in the creative economy. In today's digital era, where there are lots of opportunities for millennial children to channel their talents, such as being a YouTuber or entrepreneurship through online. With this community service, it is hoped that it will be able to provide an understanding to students that there are many things that can be done in this era, which can even increase their own income and more than that can help the economy of the family and the surrounding community. Keywords Creative Economy Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini membahas tentang pengembangan bakat di bidang ekonomi kreatif. Dilihat dai segi potensi, dari segi peluang serta cara-cara yang bisa ditempuh untuk dapat mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah menumbuhkan rasa keingintahuan siswa siswi SMK Muhammadiyah 4 Palembang di bidang ekonomi kreatif. Di era digital saat ini, dimana banyak sekali peluang bagi anak-anak milenial menyalurkan bakatnya seperti menjadi Youtober atau dengan berwirausaha melalui online. Dengan adanya pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada para siswa siswi bahwa banyak hal yang bisa dilakukan di era sekarang ini, yang bahkan dapat meningkatkan pendapatan mereka sendiri dan lebih dari itu dapat membantu perekonomian keluarga serta masyarakat sekitar. Kata Kunci Ekonomi Kreatif Pendahuluan Ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tak terbatas, ide, gagasam, bakat atau talenta dan kreativitas. Nilai ekonomi dari suatu produk atau jasa di era kreatif tidak lagi ditentukan oleh bahan baku atau system produksi seperti pada era industry, tetapi lebih kepada pemanfaatan kreativitas dan penciptaan perkembangan teknologi yang semakin maju. Industry tidak dapat lagi bersaing di pasar global dengan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 34 hanya mengandalkan harga atau kualitas produk saja, tetapi harus bersaing berbasis inovasi, kreativitas dan imajinasi Rochmat Adly Purnomo, 2016. Pada saat ini bisnis di bidang kreativitas sangat antusias dilakukan oleh para masyarakat. Dan sangat pesat dan kompetisi bisnis pada sector mikro kecil dan menengah cukup ketat, ketatnya persaingan bisnis pada level skala kecil mendorong para pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam menyikapinya. Kualitas pelayanan juga harus memiliki keunggulan dan daya tarik tersendiri sebagai identitas suatu bisnis yang dapat dikenal oleh masyarakat secara luas. Palembang merupakan salah satu kota yang mengembangkan ekonomi kreatif ini terbukti dengan dijadikannya Palembang sebagai kota kreatif pada tahun 2019 dari subsector kuliner. Saat ini sudah ada 4000 UMKM yang mendapatkan bantuan dari pemerintah Palembang. Pemerintah kota Palembang sangat mendukung gerakan ekonomi kreatif, gabungan antra Akademisi, bisnis, komunitas, pemeintah, dan media ABCG-M dibentuk agar dapat mengatasi permasalahan yang akan menghambat pengembangan ekonomi kreatif. Selain itu pemerintah kota Palembang terus berupaya menambah dan mengembangkan ruang public seperti pemanfaatan jalan sudirman dan jalan kenten untuk para komunitas agar dapat berinteraksi dan berinovasi dengan kreativitas yang dimiliki pemkot pemerintah Palembang, 2016. Fakta di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah sangatlah besar untuk menumbuhkan para generasi ke generasi untuk meningkatkan ekonomi kreatif. Salah satu nya adalah sekolah Menengah kejuruan 04 Muhammadiyah Palembang. SMK 4 Muhammadiyah adalah salah satu sekolah yang mengembangkan ekonomi kreatif dengan cara memberikan edukasi tentang bagaimana pentingnya membuat kreativitas yang nantinya bisa mempunyai nilai tambah tentunya juga bermanfaat bagi dirinya dan orang sekitarnya. Namun mereka belum memiliki motivasi yang tinggi untuk mengembangkan ide-ide kreatif tersebut serta masih rendahnya akses terhadap informasi, teknologi, pelatihan-pelatihan keterampilan serta jaringan pemasaran hasil usahanya. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan terutama kepada untuk menambah pengetahuan mengenai bagaimana mengembangkan ide-ide kreatif menjadi sumber-sumber ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Metode Pengabdian 1. Metode Pengabdian Rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat adalah sebagai berikut a. Bentuk pengabdian Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam sosialisasi adalah 1 Pemaparan materi tentang ekonomi kreatif 2 Pemahaman dan Tanya jawab tentang ekonomi kreatif b. Tempat kegiatan Adapun tempat kegiatan atau lokasi kegiatan dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 4 Palembang c. Proses kegiatan Adapun proses kegiatan dilaksanakan dalam waktu 1 hari pada hari kamis tanggal 26 september 2019 . adapun kegiatan yang dilakukan selama kegiatan berlangsung adalah sebagai berikut 1 Registrasi peserta 2 Penyampaian materi tentang mengapa ekonomi kreatif penting. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 35 3 Ekonomi kreatif berbasis budaya lokal 4 Tanya jawab mengenai ekonomi kreatif 5 Penutup dan doa 2. Waktu kegiatan dan materi pokok dalam kegiatan Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam waktu satu hari pada hari kamis. Adapun jadwal pelaksanaannya adalah sebagai berikut Materi ruang lingkung ekonomi kreatif Pentingnya ekonomi kreatif Ekonomi Kreatif berbasis budaya lokal Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Ekonomi Kreatif Beberapa definisi dan batasan industri kratif menurut para ahli a. Menurut Departemen Perdagangan RI 20095 “Industri kreatif adalah industri yang berasala dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu b. Menurut Simatupang 2007 “Industri kreatif yang mengandalkan talenta, ketrampilandan kreativitas yang merupakan elemen dasar setiap individu. Unsur utama industri kreatif adalah kreativitas, keahlian, dan talenta yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui kesejahteraan melalui penawaran kreasi c. Menurut UK DCMS Task Force 19984 “Industri kreatif merupakan industri yang berasal dari kreativitas individu, ketrampilan, dan bakat yang secara potensial menciptakan kekayaan, dan lapangan pekerjaan melalui eksploitasi dan pembangkitan kekayaan intelektual dan daya cipta Industries as those which have their origin in individual creativity,skill and talent, ad which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content” d. Menurut UNCTAD dan UNDP dalam Creative Economy Report 20084 “Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai siklus kreasi, produksi, serta distribusi barang dan jasa yang menggunakan kreativitas dan modal intelektual sebagai input utama. Industri kreatif terdiri dari seperangkat pengetahuan berbasis aktivitas yang menghasilkan barang-barang riil dan intelektual nonriil atau jasa-jasa artistik yang memiliki kandungan kreatif tersusun dari suatu bidang yang heterogen yang saling mempengaruhi dari kegiatan-kegiatan kreatif yang bervariasi, yang tersusun dari seni dan kerajinan tradisional, penerbitan, musik, visual dan pembentukan seni sampai dengan penggunaan teknologi yang intensif Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 36 dan jasa-jasa yang berbasis kelompok, seperti fil, televisi, dan siaran radio, serta media baru dan 2. Dasar Ekonomi Kreatif a. Kreativitas Creativity Dapat dijabarkan sebagai suatu kapasitas atau kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang unik, fresh, dan dapat diterima umum. Bisa juga menghasilkan ide baru atau praktis sebagai solusi dari suatu masalah, atau melakukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada thinking out of the box. Seseorang yang memiliki kreativitas dan dapat memaksimalkan kemampuan itu, bisa menciptakan dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri beserta orang lain. b. Inovasi Innovation Suatu transformasi dari ide atau gagasan dengan dasa kreativitas dengan memanfaatkan penemuan yang sudah ada untuk menghasilkan suatu produk ataupun proses yang lebih baik, bernilai tambah, dan bermanfaat. Sebagai contoh inovasi, cobalah melihat beberapa inovasi di video-video dengan kata kunci “lifehack”. Di video itu diperlihatkan bagaimana suatu produk yang sudah ada, kemudian di-inovasikan dan bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai jual lebih tinggi dan lebih bermanfaat. c. Penemuan Invention Istilah ini lebih menekankan pada menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dan dapat diakui sebagai karya yang mempunyai fungsi yang unik atau belum pernah diketahui sebelumnya. Pembuatan aplikasi-aplikasi berbasis android juga menjadi salah satu contoh penemuan yang berbasis teknologi dan informasi yang sangat memudahkan manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari Rochmat Aldy Purnomo, 2016 8. Ekonomi kreatif menjadi salah satu konsep untuk pengembangan perekonomian di Indonesia. Yang mana, Indonesia bisa mengembangkan model ide dan talenta dari rakyat untuk dapat menginovasi dan menciptakan suatu hal. Pola pikir kreatif yang sangat diperlukan untuk tetap tumbuh berkembang serta bertahan di masa yang akan datang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi pekerja kreatif tidaklah cukup memiliki bakat pandai menggambar, menari, menyanyi dan menulis cerita. Ia harus memiliki kemampuan mengorganisasikan ide‐ide multi disipliner dan juga kemampuan memecahkan masalah dengan cara‐cara di luar kebiasaan Rochmat Aldy Purnomo, 2016 11. Adapun strategi pengembangan ekonomi kreatif yang direncanakan dalam tahun 2015 sampai dengan 2019 yaitu 1. Meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia SDM dan bahan baku untuk pengembangan ekonomi kreatif. Sasarannya adalah 1 Meningkatnya kuantitas dan kualitas orang dan tenaga kerja kreatif 2 Tersedianya bahan baku dari sumber daya alam yang berciri khas lokal, berkelanjutan dan ramah lingkungan dari sumber daya alam Indonesia 3 Meningkatnya penggunaan, pengelolaan, dan perlindungan sumber daya budaya yang berkelanjutan 2. Meningkatkan pertumbuhan dan daya saing industri kreatif. Sasarannya adalah 1 Meningkatnya wirausaha kreatif yang berdaya saing secara nasional dan internasional 2 Terciptanya produk dan jasa kreatif Indonesia yang menjadi ikon nasional dan internasional. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 37 3. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Sasaranya adalah 1 Terciptanya pembiayaan yang sesuai dan mudah diakses 2 Meningkatnya keragaman karya kreatif dan pangsa pasar ekonomi kreatif 3 Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang mendorong kelancaran produksi, distribusi dan promosi produk kreatif 4 Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna dan mudah diakses 5 Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan ekonomi kreatif 6 Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan ekonomi kreatif 7 Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan ekonomi kreatif 8 Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi kreatif 9 Terwujudnya kreativitas sebagai paradigma pembangunan dan dalam kehidupan masyarakat 10 Meningkatnya posisi, kontribusi, kemandirian serta kepemimpinan Indonesia dalam fora internasional 11 Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/ wirausaha/usaha kreatif lokal di dalam dan luar negeri Rochmat Aldy Purnomo, 2016 45. Pembahasan Kegiatan pengabdian ini terselenggara atas kerjasama dengan siswa siswi serta dewan guru SMK 4 Muhammadiyah Palembang. Kegiatan penyuluhan ini merupakan salah satu tahapan penting dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai Tridarma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan pada Agustus 2019. Penyuluhan dilakukan di aula SMK 4 Muhammadiyah Palembang. Yang memberi kata sambutan adalah Kepala Sekolah SMK 4 Muhammadiyah Palembang. Sedangkan sebagai narsumber dalam kegiatan ini adalah saya sendiri. Dimana saya adalah dosen ekonomi syariah serta guru di salah satu sekolah di Palembang. Kegiatan berlangsung lancer dengan suasana kenyamanan. Dalam pelaksanaannya kegiatan penyuluha ini dihadiri oleh siswa siswi SMK 4 Muhammadiyah serta dewan guru. Peserta yang hadir terlihat antusias mendengarkan penyuluhan yang disampaikan, hal ini tampak dari banyaknya ssiwa siswi yang bertanya tentang bagaimana cara mengembangkan ekonomi kreatif pada sekolah mereka. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan dengan metode ceramah, Tanya jawab serta memberikan arahan kepada siswa untuk mampu mengembangkan ekonomi kreatif seiring dengan berkembangnya UMKM yg ada. seperti memberikan contoh ekonomi kreatif pada sekolah lain, pemutaran film-film ekonomi kreatif. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas pada anak. Potensi siswa siswi SMK Muhammadiyah Palembang sangat beragam dan prospek dikembangkan untuk geliat ekonomi kreatif masyarakat. Seperti mengembangkan kreativitas pembuatan olahan makanan, membuat buket bunga, membuat karya seni lukis. Di sini memiliki tempat yang sangat menarik untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan. Oleh karena itu materi yang disampaikan sesuai dengan potensi siswa siswi yang ada pada SMK 4 Muhammadiyah Palembang. Materi penyuluhan antara lain mengenai pemahaman apa yang dimaksud dengan ekonomi mreatif, apa itu kreatifitas, bagaimana membuat buket bunga, membuat olahan makanan dan lain-lain. Selain dengan metode ceramah materi juga disampaikan dengan pemutaran video film proes Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 38 pembuatan produk olahan kreatif tersebut. Sehingga siswa siswi lebih cepat memahaminya dan tertarik mengikuti penyuluhan ini. Pelaksanaan penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat sudah merupakan langkah tepat untuk memotivasi selera usaha siswa siswi. Adanya hubungan peranan penyuluhan terhadap peningkatan jumlah siswa yang membuat kerajinan untuk siap dipasarkan. Melalui penyuluhan ini siswa mendapatkan informasi dan wawasan sehingga siswa memahami secara mendalam tentang ekonomi kreatif serta manfaatnya bagi peningkatan jumlah kerajinan pada anak. Keberhasilan penyuluhan yang ditujukan dengan diterimanya ide baru berlanjut sampai digunakannya ide baru oleh para siswa berlangsung dalam system penyuluhan yang di dalamnya ada beberapa fungsi yang dapat saling mempengaruhi yaitu 1 fungsi penelitian, 2 fungsi pengaturan 3 fungsi pelayanan 4 fungsi penyuluhan. Beradasarkan fungsi tersebut kegiatan ini memiliki fungsi penyuluhan tampak dari aktivitas siswa SMK Muhammadiyah Palembang, dengan mudah menerima pengetahuan baru dan berkeinginan mengimplementasikannya. Namunterus bias untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal hal yang dapat dilakukan adalah diperlukan kegiatan lanjutan yang bersifat pendampingan masyarakat sehingga mereka bisa terus menekuni usaha yang akan dibuat. Hambatan yang ditemui pada saat penyuluhan adalah menyesuaikan jadwal siswa dengan jadwal kegiatan mengajar. Selain itu masih banyaknya siswa yang belum mngetahui bahwa kegiatan-kegiatan yang sebelumnya mereka lakukan adalah bagian dari ekonomi kreatif yang nantinya dapat memberikan nilai manfaat bagi mereka dan masyarakat sekitar. Seluruh siswa yang menerima penyuluhan berharap aka nada keberlanjutan kegiatan ini dengan penyuluhan-penyuluhan materi lainnya serta adanya pembinaan. Dokumentasi Kegiatan PKM Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 39 Simpulan Kegiatan penyuluhan untuk penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya di SMK Muhammadiyah 4 Palembang memberi manfaat bagi siswa. Ini tampak dari antusiasnya para siswa dalam tanya jawab dan termotivasi mengembangkan kreatifitas usahanya. Sehingga kegiatan ini perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Fitria 40 Daftar Pustaka Departemen Perdagangan Republik Indonesia. 2009. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2010- 2014. Jakarta Departemen Perdagangan. Http// Rochmat Adly Purnomo, 2016. Ekonomi Kreatif Pilar Pembangunan Indonesia Banyumas Simatupang, 2008. Industri Kreatif untuk Kesejahteraan Bangsa. ITB Bandung Inkubator Industri dan Bisnis. Simatupang, Togar. 2007. Ekonomi Kreatif Menuju Era Kompetisi dan Persaingan Usaha Ekonomi Gelombang IV. Institut Teknologi Bandung. UNDP-UNCTAD, 2008. Creative Economy Report, United Nations, AS. Reza IchsanNazlah Rachma PanggabeanMuhammad SyahbudiLukman NasutionPerubahan yang terjadi sangat cepat dan penuh kerentanan, seperti situasi COVID-19 saat ini, yang sangat menyulitkan pengelola rantai pasok, meski saat ini memiliki tingkat kenormalan yang sangat tinggi. Tren konsumen berubah sangat cepat dan sangat sulit diprediksi. Tujuan penelitian dan pengembangan adalah untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi implementasi dan daya saing industri inovatif untuk dikembangkan. Perlu dicatat bahwa proses periklanan tidak hanya tentang penyediaan informasi, ketersediaan barang, uang, dan kemajuan, tetapi kelebihannya terletak pada penyediaan informasi, pengetahuan tentang peta kualitas, dan penerapan keterampilan berjalan yang berharga. Survei Kekuatan, Peluang, Aspirasi dan Hasil SOAR dan lokasi survei digunakan untuk memutuskan proses opsional. Strategi yang memperhitungkan semua poin kualitas menarik yang diperoleh. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan bentuk-bentuk objek latihan transformatif dan kegiatan pertukaran, potensi dan tantangannya harus ditimbang dengan cermat agar manfaat yang inklusif dapat diwujudkan dalam setiap pelaksanaannya. Hasil studi SOAR menghasilkan lima metode opsional. Nilai tambah terbesar diberikan oleh hasil pemeriksaan untuk pentingnya kemungkinan aksesibilitas sumber daya dengan nilai diikuti dari urutan kedua hingga kelima, memperoleh perubahan pasar yang cepat membangun asosiasi terstandar dan ekonomis. objek dan pengembangan standar produktivitas untuk daya saing secara individual. Telah disarankan bahwa metodologi pengembangan pengembangan bisnis imajinatif harus mempertimbangkan potensi sumber daya dan respons cepat terhadap permintaan iklan, di antara tiga komponen Syah BudiPurpose This research aims to formulate a Creative Industries Development Strategy towards the International market as an economic driver in Indonesia. Design/methodology/approach This paper is carried out with a qualitative approach through the SOAR method, which is a strategic planning method used to evaluate strengths, opportunities, aspirations and results in the development of creative industries in Indonesia. Findings The result shows that producing the start-up S-A is a strategy obtained between Strengths strengths and Apirations aspirations. Research limitations/implications The limitation of this study is the use of SOAR analysis which only focuses on evaluate strengths, opportunities, aspirations and results rather than weaknesses or threats. Originality/value This study analyzes the strengthening of the Creative Industry Sector Market in Facing Creative Economy Ekonomi Kreatif IndonesiaRepublik Departemen PerdaganganIndonesiaDepartemen Perdagangan Republik Indonesia. 2009. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2010-2014. Jakarta Departemen Kreatif untuk Kesejahteraan Bangsa. ITB Bandung Inkubator Industri dan BisnisM T SimatupangSimatupang, 2008. Industri Kreatif untuk Kesejahteraan Bangsa. ITB Bandung Inkubator Industri dan Kreatif Menuju Era Kompetisi dan Persaingan Usaha Ekonomi Gelombang IVTogar SimatupangSimatupang, Togar. 2007. Ekonomi Kreatif Menuju Era Kompetisi dan Persaingan Usaha Ekonomi Gelombang IV. Institut Teknologi Bandung. Kreativitas dan budaya dalam industri ekonomi kreatif memiliki posisi strategis dalam melihat potensi lokal secara “smart”.Dua kata “Kreativitas” dan “Budaya” juga merupakan kunci, jika suatu daerah ingin skema competitive advantages, dua kata ini juga merupakan pilar dan sentral pembangunanindustrial clusters Porter, 1990 yang digagas jauh sebelum kita mendiskusikan berbagai konsep ekonomi kreatif di penting kemudian untuk melihat kembali kapan dan sebaiknya bagaimana kita mulai merealisasikan konsep ekonomi kreatif melalui implementasi strategi ekonomi kreatif di Indonesia dengan melihat kembali skala lokal sebagai pilar nasional. Tujuan penelitian ini adalah; 1 Mendapatkan gambaran mengenai penerapan industri ekonomi kreatif berbasis local context budaya dan kreativitas lokal, 2 Mengembangkan strategi sebagai salah satu solusi untuk mendorong pengembangan ekonomi petani kopi, 3 Menemukenali strategi bagaimana menumbuhkan enterpreneurship pada petani kopi lokal Jangkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisa kualitatif sebagai sebuah kajian temuan diharapkan dapat berimplikasi sebagai strategi solusi-pengembangan kopi lokal Jangkat-Merangin sebagai lokal branding daerah yang layak dipertimbangkan dalam skala yang lebih luas. Namun di sisi lain juga dapat dijadikan model pembelajaran pada konteks komunitas petani di wilayah lainnya. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication. HikariMinowa18 Membuat budaya lokal yang unik dan seimbang kualitas nya dengan yang ada di industri. budaya lokal pun harus keratif seperi yang ada luar maupun di dalam sebuah kalau salah ⊙﹏⊙ 58 votes Thanks 103 ArticlePDF Available AbstractPemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair­ syair gandrung, lagu­lagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilai­nilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal. Abstract The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area. Key Words local literature; Using culture; creative industry; revitalization Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. SASTRALOKALDANINDUSTRIKREATIFREVITALISASISASTRADANBUDAYAUSING1LocalLiteratureandCreativeIndustryRevitalizationofUsingLiteratureandCultureNoviAnoegrajektiJurusanSastraIndonesia,FakultasSastra,UniversitasJemberJalanKalimantan37Jember,Pos‐el regional, khususnya Banyu‐wangitidakhanyaterjadipadamasape‐merintahan sekarang. Sejak 2000—2005, bupati Samsul Hadimendeklarasikan JenggiratTangiseba‐gaisebuahgerakankebudayaanpenegu‐han identitas Using sebagai masyarakatlokal. Bupati Ratna Ani Lestari 2005—2010 dengan gerakan HijoRoyoroyo,dan bupati Abdullah  2010—sekarang183 ATAVISME,Vol. sember201dengan TheSunRiseofJava.Ketigage‐rakan tersebut memperlihatkan bagai‐mana pimpinan daerah mengekspresi‐kan daya dalam ta aran16,No.2,EdisiDe 3183—1 18493 segera berubah menjadi sesuatuyangeksotisbagiorang bu t po‐litis.Kebijakan JenggiratTangi diputus‐kanmelaluiSKbernomor173tertanggal31 Desember 2002 yang menetapkan“bahwa dalam rangka mendorong tum‐buhnya semangat ikut serta memilikidaerah dengan segala kebudayaannya,yang pada gilirannya akan mampu me‐ningkatkan pembangunan di bidang ke‐pariwisataan, maka perlu adanya upayameningkatkanpromosipariwisatadiKa‐bupatenBanyuwangi.Tampak dari kon‐sideran,dua arti pentingproyekpeman‐faatan gandrung sebagai maskot. Pertama, gandrung dianggap sebagai wakilataurepresentasibudayadaerahBanyu‐wangi.Kedua, gandrung dipakai sebagaikomoditiuntukmenarikpariwisata.Posisi gandrung sebagai tanda dae‐rah Banyuwangi tersebut mengalahkantanda yang sudah berumur puluhan ta‐hun, yakni patung ular berkepala gatot‐kacayangterpajangdibanyaktempatdikota Banyuwangi termasuk di depankantor kabupaten dan pendopo tempatbupati berdomisili. Tanda ini juga telahtersosialisasi ke dalam kehidupan ma‐syarakatdanmenjadiaksesoridiataspi‐gura gong gandrung Anoegrajekti,200775.Keseniangandrung  yangbagiorang Banyuwangi merupakan bagiandarikehidupansehari‐haridan ciri khasmereka,ketikamenjadi promosi pariwi‐sata, 2Proyek pemanfaatan gandrung se‐bagai maskot pariwisata Banyuwangiadalah bagian dari proyek JenggiratTangi, sebuah proyek politik yang di‐maksudkan untuk mendorong kebang‐kitandaerahdanmasyarakatnya.Selainpemaskotan gandrung, proyek ini jugamencanangkan beberapa kegiatan yanglain, seperti sehari berbahasa Usingsetiaptanggal18Desembersetiaptahunbersamaandenganhari ulang tahunBa‐nyuwangi, sepekan berbusana Using18—25Desember,danpenerbitanma‐jalah berbahasa Using. Khusus untukyangpertamadankeduahanyaberlakubagi setiap pegawai negeri maupunswastadiseluruhBanyuwangi.ProyekpolitikJenggiratTangi,yangdideklarasi‐kan pada 18 Desember 2002 ini, cukupsemarak terutama dengan pajangan‐pa‐jangan billboardbesar kecil bertuliskanJenggiratTangidibanyaktempatstra‐ dari proses elit semata, me‐lainkan juga bagaimana identitas Usingjikadikaitkandenganresponmasyara‐katdalamrealitaskekinianyangmenun‐jukkankemajemukan.Penegasanidenti‐tasUsingdanberbagaiupayakonservasigandrungberaturanbaku,baikmelaluiregulasimaupunsosialisasitersebut, se‐laindianggap kontroversi olehkalanganpolitisi, juga berlawanan dengan kenya‐taan bahwa pertunjukan gandrung bu‐kansajatidakmempertimbangkantra‐disid Uanidentitas singtetapitelahmen‐jadipasar,terbuka,dan gandrung saat ini me‐nunjukkan bahwa kesenian ini telahmengalami perkembangan yang sangatjauhseiringdengandinamikakomunitasUsingitu sendiri.Pertunjukan gandrungseperti halnya kesenian tradisi lain, bu‐kan saja menjadi profan dan murni hi‐buran melainkan juga berinteraksi dansaling memengaruhi dengan kesenian‐kese nianlaintermasukdengankesenianpopulersepertidangdut.SelainkesenianGandrung,masyara‐katUsingdiBanyuwangi memiliki bera‐gamsenipertunjukandantradisilisanyang sampai saat ini masih eksis, misallagu‐lagu dalam pertunjukan angklung,ceritarakyatdalamjinggoan,dantradisiwangsalandanbasanan.Sastralokalda‐lam seni pertunjukan tersebut RevitalisasiSastradanBudsebenarnya bisa menjadi penopang pe‐ngembanganindustrikreatif.Sampaisa‐atini,dinasterkaitdiBanyuwangibelumbisamembuatkebijakanyangbisamen‐dukungterciptanyapolapikir,sistem,dan praktik industri kreatif berbasis lo‐kalitasdantetapmengedepankankarak‐terisailagudansinema og afi,ke ajinan,dandesain.Tomic‐Koludrovic & Petric 2005menjelaskan bahwa era kontemporermenunjukkan kecenderungan lahirnyabeberapaistilahterkaitkreativitas,yakni“kota kreatif”, “kelompok kreatif”, “eko‐nomi kreatif”, “kelas kreatif”, “pekerjapengetahuan”,maupun “kelasberpengetahuan”yang semua itu lebihsesuaidibicarakandalamduatermauta‐ma industrikreatifdanekonomikreatif.Artinya, berdasarkan pengalaman nega‐ra‐negaraEropaTenggara,industrikrea‐tifyangbisamengembangkandanmem‐berdayakan kreativitas individual mau‐pun kelompok masyarakat, pada dasar‐nya,bisamendorongdan mengembang‐kanekonomi kreatif;sebuah sistemdanprakya...NoviAnoegrajekti185tik nilai‐nilai kultural yang adaAnoegrajekti,2010.Tulisan ini bertujuan untuk menje‐laskanbagaimanaindustrikreatifberba‐sissastralokaldanbudayaUsingdikem‐bangkan.Denganmetodeetnografisdananalisis culturalstudies, model tersebutdiharapkanmampumengembangkanin‐dustrikreatifdiwilayahlokal.TEORIIndustri kreatif merupakan salah satukonsep yang paling banyak diperbin‐cangkandi kalangan akademisimaupunpembuat kebijakan akhir‐akhir ini. Ke‐tika peningkatan industri dan ekonomiberbasis sumberdaya alam semakinmendapattantangan karena keterbatas‐an bahan, industri kreatif berbasis pe‐ngetahuan dan talenta kreatif menjadipilih aan paling masuk kal untuk meng‐gerakkanekonomi.Konsep industri budaya merujukkepadaindusriyangmengkombinasikankreasi,produksi,dankomersialisasikon‐ten‐konten kreatif yang bersifat intangibledan kultural. Konten‐konten terse‐but secara tipikal dilindungi oleh copyrightdanbisaberbentukindustribarangmaupun jasa. Industri budaya secaraumumberbentukpercetakan,penerbit‐andanmultimedia,audio‐visual,pro‐duks t r rtik ekonomi yang lebih mendasar‐kankepadakreativitasdanpengetahuan.Industribudayamemanglebihdi‐gerakkan oleh para pemodal/perusaha‐an besar yang mencari keuntungan me‐laluisistemindustribudayadengancaramemproduksi dan mendistribusikanproduk budaya secara nasional ataubahkaninternasionalyangdidalamnyaterdapat keseluruhan organisasi yangterlibat dalam proses penyaringan pro‐duk‐produkdanide‐idebaruyangber‐asal dari personel kreatif yang beradadalam level subsistem Granham dalamSariono,etal, 2009. Sementara,konsepindustri kreatif menekankan pada ting‐katanyanglebihluasdariaktivitasyangtermasukdidalamnyaindustribudayadan semua produksi kultural atau artis‐tik, baik yang bersifat liveseperti senipertunjukan maupun yang diproduksiolehunit‐unitindividual.Maka,industrikreatif secara umum mencakup penye‐diaanprodukataujasayangjugamemu‐atelemen‐elemensubstansialdariusahakreatifdanartistik.METODESebagaipersoalankebudayaan,sastralo‐kaldanindustri kreatif dalam kaitannyadengan revitalisasi sastra dan budayaUsing dikaji secara etnografis denganmemusatkan perhatian pada sistem pe‐ngetahuan yang dimiliki subjek dan ba‐gaimana pengetahuan itu diorganisasi‐kan untuk menentukan tindakan. Selainitu, metode etnografi digunakan untukmenemukan bagaimana masyarakat ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20mengorganisasikanbudaya dalam pikir‐anmerekadankemudianmenggunakanbudaya tersebut dalam kehidupannya.Pendekatanini lebih bersifatholistik‐in‐tegratifdalamrangkamendapatkannative’spointofview.Data primer maupunsekunderakandikumpulkandenganwa‐wancara mendalam indepthinterview,pengamatan terlibat participantobservationdanpelacakan dokumen tertulis.Spradley 1997118; Barker, 200027menyebut analisis etnografi sebagai pe‐meriksaan ulang terhadap catatan la‐panganuntukmencarisimbol‐simbolbudaya yang biasanya dinyatakan de‐nganbahasaaslisertamencarihubung‐an antarsimbol. Metode interpretasi di‐pergunakan untuk mengakses lebih da‐lam terhadap berbagai domain yang di‐alamiahkan dan aktivitas karakteristikpelakuyangditelitiSebuahanalisisetno‐grafis, seperti yang dikatakan Spradleyberangkatdarikeyakinanbahwase‐orang informan telah memahami se‐rangkaian kategori kebudayaannya,mempelajari relasi‐relasinya, dan me‐nyad m h ng13183—1 18693merepresentasikan Using, bahkanBanyuwangi.Identitas kultural selalu dikaitkandenganhibriditasdandiaspora.MenurutHall 1997; Melani, 200538 identitasbukanlah esensi, melainkan sejumlahatribut identifikasi yang memperlihat‐kan bagaimana kita diposisikan danmemposisikan diri dalam masyarakat,karenaaspekbudayadankesejarahanmerupakan keniscayaan. Hall menekan‐kan bahwa identitas sebagai suatu pro‐duksi yang tidak pernah tuntas, selaludalamprosesdanselaludibangundalamrepresentasi.Identitastidak bersifatsta‐tis, selalu dikonstruksikan dalam ruangdan aktu, serta bersifat kompleks danmajemuk.ari atau engetahui ubu an de‐ngankeseluruhannya.Identitas menurut Hall 1993menghubungkan representasi denganpolitik.  Politiklah yang membuat kartupos pemandangan dan penari Bali bisadianggapmerepresentasikanBali.Halinidapat diidentikkan bahwa politik kebu‐dayaanyangdapatmembuatsastralokaldalamsenipertunjukanBanyuwangida‐patwHASILDANEMBA ASANSiapaOrangUsing?Masyarakat Using adalah pendudukawal Banyuwangi dengan klaim sebagaietniktertentuyangditandaiduahal.Per‐tama, mengalami sejarah penindasandan penaklukan yang panjang oleh ke‐kuatan‐kekuatan politik Majapahit, De‐mak,Buleleng,danBelanda,bahkanJa‐wakontemporermemarginalisaside‐ngan stereotipe dan stigma. Oleh sebabitu,populerdikalanganelitemerekase‐buah ungkapan resistensi ”bukan Jawadan bukan pula Bali” dari segi bahasamaupun adat‐istiadat. Kedua, dalam se‐jarahnya yang panjang pula, mereka te‐lah mengalami kehidupan bercampurdengan etnis‐etnis lain yang berdatang‐andariberbagaidaerahdiJawa,Madura,Bali,danSulawesiSelatanbaikbersama‐an dengan pembukaan perkebunan Be‐landadiawalabadke‐20maupundima‐sasesudahnya. Dalam konteks kehidup‐anekonomidanpolitik,komunitasyangsebagianbesarbermatapencaharianpe‐tani ini tampak menempati posisi pojokyangP Haksesnyaterhadapsumber‐sumberekonomidankekuasaanrelatiflemah.Mayoritas mereka beragama Islamsinkretikdan hanyasebagiancenderungmenjadi Islam ortodok‐puritan, tetapijustruyangterakhiritulahyangmem‐perlihatkan otoritas lebih kuat. Sepertihalnyakesenian‐keseniantradisiditem‐pat lain, gandrung merupakan kesenianyang didukung dan dimiliki oleh danmenjadi bagian penting dari hidup dankehidupan komunitas Using Banyu‐wangi.Sebuah komunitasetnik yangdi‐kenal sebagai penduduk paling awaldaerah itu dan sekarang menyebar di RevitalisasiSastradanBudbeberapakecamatanbercampurdengankomunitas lain seperti Jawa, Madura,Bali, angaya... CirikhaskarakteristikbudayaUsingyang menonjol adalah sinkretis, yaknidapat menerima dan menyerap budayamasyarakat lain untuk diproduksi kem‐balimenjadibudayaUsingSingodimayan,1999.Selainitu,budayaUsingjuga akomodatif terhadapkekuat‐ansupranatural,gaib,danmagis.Haliniterlihat dalam sinkretisme agama Islamdengankepercayaananimisme‐dinamis‐me yang terakumulasi dalam keyakinanterhadapdhanyang, seperti dalam ritualSeblang, Barong, dan Kebo‐keboan. Se‐dangkansinkretisme dalam dimensi ke‐senian tampak dalam seni Hadrah Kun‐tulan yang memadukan seni Islami de‐ngan anggapan tabu penari perempuanSaputra,201130.NoviAnoegrajekti187dan etnik pendatang lain yjumlahnyasangatkecil.Masyarakat Using mempunyai pe‐ngalaman sejarah yang berbeda dengankomunitas‐komunitas lain di Banyuwa‐ngiterutamaberkaitandengankekuatanpolitikkerajaandimasalalusepertiDe‐mak,Mataram,danBuleleng.Merekase‐lalu menjadi objek penaklukan baik un‐tukkepentinganperluasan wilayah, mo‐bilisasikekuatanmassa,kekuataneko‐nomi, maupun pengaruh kultural yangsemua itu diperlukan oleh kerajaan‐ke‐rajaanbesartersebut.Sebuahpengalam‐an sejarah yang membentuk sistem bu‐daya Using yang kini mengakar dan di‐artikulasi dalam kehidupan sehari‐haribaik dalam kehidupan kolektif sesamamerekamaupun dalam interaksinya de‐ngankomunitaslain. Sebagai komunitasyangtidakekslusif,masyarakatUsingberinteraksi secara intensif dengan ko‐munitas‐komunitas lain di Banyuwangibaik dalam kehidupan sosial politik,ekonomi,maupunbudaya.Suatupe‐ngalaman interaksi yang memengaruhisistemnilai dan tatananhidup yangadaataubahkanmelahirkanyangbaru.Dalam hal kepribadian, karakteris‐tikorangUsingberbedadariorangJawa.Menurut Singodimayan kepribadianorangUsingtidakbersifathalus atau to‐leransepertiorangJawa,melainkanber‐sifataclak,ladak,danbingkak.Aclakber‐artisokinginmemudahkanoranglain,atau sikap yang memosisikan diri seba‐gai sok tahu. Ladaksikapyangmenun‐jukkan kesombongan dengan cara ber‐canda. Sedangkan bingkakberartiacuhtak acuh dan kurang peduli. Karakteris‐tik ini pun berlanjut pada penggunaanbahasapergaulanyangseringmenggu‐nakankata‐kata ABCasu, babi, celeng.Penggunaankatatersebutbukansebagaikemarahan melainkan sebagai relasipersahabatan.SyairdalamPertunjukanGandrungdanAngklungRepresentasiIdentitasUsingAntusiasme birokrasi dan seniman‐bu‐dayawan Dewan Kesenian Blambanganyangmeningkatsejaktahun 2000 mem‐buatpertarunganberbagaikekuatanter‐hadapgandrungsemakinseru.Gan‐drung, dalam pandangan kelompok inimerupakan kesenian yang mengandungnilai‐nilaihistoriskomunitas Using yangterus‐menerusadadalamposisitertekansecarastrukturalmaupunkultural.Seni‐man dan budayawan Dewan KesenianBlambangan memperlihatkan penegas‐annyabahwagandrungadalahrepresen‐tasiidentitasUsingyangtertekandanmelawan. “Pertunjukan gandrung tidaklainadalahgambaranperlawanankebu‐dayaansebuahmasyarakatUsing.Per‐lawanan terhadap berbagai ancaman,baikyangbersifatfisikmaupunpencitra‐annegatif yangberulang kaliterjadi da‐lam kesejarahan masyarakat Using.”Singodimayan,etal,2003.Merekaper‐cayadanselalumengkampanyekanbah‐wapertunjukangandrungsebelumkese‐nianitumemasukimasavakumditahun1966 sering disebut merupakan ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20ungkapansejarahpenindasandanperla‐wanan komunitas Using. Bahkan untukmelestarikangandrungsepertiitumere‐ka memproduksi berbagai regulasi danupaya‐upayasosialisasisepertipelatihanpenarigandrungsecarareguler,danfor‐malisasi tradisi merasgandrung. Secaraeksplisit,berbagaiupayakonservasi tra‐disi itu mereka ungkapan untuk “me‐nam13183—1 18893dicatatdandidokumentasidalamingatandanhafalangenerasiberikutnya.Selainsyairtradisiyangpakem,sya‐ir kontemporer Using banyak ditemuidalamseni KendangKempulantaralain“UlanAndhung‐andhung”,“KembangPe‐thetan”, “Gelang Alit”, “Kantru‐kantru”,“CemengManggis”, “LancingTanggung”,dan “Lali‐lalian.” Sedangkan syair‐syairklasikUsingbanyakdimanfaatkandalamgending‐gending ritual dan juga diman‐faatkansebagaipropagandasimbolikda‐lam gerakan perjuangan melawan kolo‐nial, seperti “Padha Nonton”, “SeblangLukipilkan identitas Using” di tengahpertarunganyangsemakinglobal.Sejumlah seniman‐budayawan baikdi Dewan Kesenian Blambangan mau‐pun masyarakat memandang bahwa la‐gu“PadaNonton”mengandungpesan‐pesan perjuangan rakyat Blambangan.FatrahAbal menerangkan bahwadalamtampilanyang paling ekplisit lagu terse‐but adalah irama vokal untuk memberipenghormatan kepada tamu, tetapi jugasecara simbolis mengandung maknaperjuangan. Tim dari Yayasan Kebuda‐yaan Banyuwangi5 berpendapat bahwa“Pada Nonton” adalah sebuah sindiranterhadap pembuatan jalan tembus keBanyuwangi menyambung jalanDeandels yang berujung di Panarukan,atau peristiwa pembuatan terowongankereta api Merawan yang mengakibat‐kanr lambanganakyatB harusmenerimakerjapaksa.Bahkan ada juga yang menafsirkantentang para pembesar yang mengham‐burkan hawa nafsunya dengan para pe‐rempuan Blambangan. Oleh karena itu,menurutFatrahAbal,“PadaNonton”bu‐kansaja dipandangsebagai sebuahlaguyang dinikmati tetapi juga merupakansejarahperjalananmasalaluorangUsingyang nta”,“SekarJenang”,dan“KembangPepe.”Gandrungtampaknyamemangsulitmelepaskan dari perhatian pihak luar.Beberapakekuatanyangbertumpupadadukungan massa seperti partai politikselalu merengkuhnya. Pada dasawarsa50‐an ketika pertarungan antarpartaipolitik sangat ramai dan meluas, gan‐drung diperebutkan terutama oleh Par‐taiKomunis Indonesia PKI melalui or‐gannya, Lembaga Kebudayaan RakyatLekradanLembaga Kebudayaan Nasi‐onalLKNmilikPartaiNasionalIndone‐siaPNI. Gandrung,seperti halnyaang‐klung,dimanfaatkanolehLekramaupunLKN untuk memobilisasi massa pendu‐kungnya masing‐masing secara terusmenerus, tidak hanya ketika partai‐par‐taiitumemerlukandukunganpraktisse‐pertiPemilusebagaimana kecenderung‐anpartaipolitiksekarang.CengkeramanLekra terhadap gandrung mengharus‐kankesenianini untukselalumelantun‐kansecararutinlagu‐laguyangdiklaimsebagai“cirikhas”nyasepertilagu“Gen‐jer‐genjer”.Justru karena itulah, gandrung di‐identifikasidengan Lekrayang komunisdansejakperistiwa1965terkenalarang‐an pentas, bahkan lagu‐lagu yang biasadidendangkannya tidak boleh dikuman‐dangkan,dantariannyapunmenjaditer‐larang.Hampirtujuhtahunsejakperisti‐watersebutpentasgandrungtidakterli‐hat di Banyuwangi. Para seniman gan‐drungyangdikategori komunisdibunuhatau menjadi tahanan politik dan mere‐kayangbukankomunistidakberanime‐mentaskannya. Seluruh warga masyara‐katBanyuwangiketakutanuntukme‐mentaskan kesenian ini karena cap ko‐munis. RevitalisasiSastradanBudGandrungmunculkembalipadada‐sawarsa tahun ’70‐an, bersamaan de‐ngandimulainyaproyekRevitalisasi Ke‐budayaanDaeraholehDepartemenPen‐didikandanKebudayaan,sebuahproyekyangdirancangdandikerjakansecarasistematis dalam bentuk penelitian,penggalian, inventarisasi, dokumentasi,pembinaan,pelatihan,dansertifikasiter‐hadapsetiapkeseniandaerahdalamke‐rangaya... etnik melalui ek si k ian se‐pertigandrungFatrah Abal dan HasnanSingodimayan keduanya budayawanBanyuwangi menceritakan bahwaDjoko Supaat Slamet memberikan pelu‐angbagiseniman‐senimanLekraBanyu‐wangi seperti Andang CY budayawandanpencipta lagu, SlametMenur,  danEndroWilisyangmasihhidupdanmen‐dorongmerekauntuktetapberkaryadengancatatantidakmenyebarkanpa‐ham komunisme. Baik Andang, Slametkoreografer, Endro Wilis pencipta la‐gumaupunBasyirpenciptalagusam‐paikinimasihberkaryasenidandiakuiolehpublikdiBanyuwangitanpa diskri‐minasi. Bahkan Slamet pada akhir 2004berhasil mereproduksi lagu‐lagu yangpada60‐an diklaim sebagaikarya Lekradan sajak tahun 1965 tidak dikuman‐dangkansepertiAngklungSorenCepMenengo,Rantag,Emasemas,Sekolah,danPadhaNginangciptaanMoch.AriefdanEndrNoviAnoegrajekti189kapemantapanintegrasidansta‐bilisasipolitik dan Samsul Hadi 2000—2005,berperansangatpenting dalam menghi‐dupkankembaligandrung dan kesenianUsinglainyangtampakmulairedupolehberbagaifaktor, antara lain desakan do‐minasi budaya tertentu dan modernitastermasuk budaya pop yang merambahBanyuwangi.TerutamaSamsulHadi,bu‐pati 2000—2005, menjadi agen palingpentingdalammerepresentasikanUsingditengah‐tengah pergaulan kebudayaandan spre esen.o Wilis, keduanya seniman ang‐klungkelompokLekra.Selainpertunjukangandrung,syair‐syair Banyuwangi juga berkembang le‐wat kesenian angklung sejak tahun1940‐an. Melalui grup Angklung SriMudadangrupangklungyanglain,tem‐bang‐tembang Banyuwangenmulai po‐puler.Kemunculangrupmusikangklungmulaimarakdan hampir terdapatdise‐luruh desa di Banyuwangi. MenurutAndangCY,“DuluSriMudaitusangatdi‐gemarimasyarakat.Hampirdisetiapde‐saada.Nah,darisitulagu‐laguditampil‐kanmelaluisenisuaradansenitari.”Peristiwatahun1965dankebijakanpolitikOrdeBaruterhadapkesenianrak‐yat rupanya berimplikasi sangat luas dikalangan masyarakat hingga di lapisanpalingbawah.FatrahAbal,Hasan Basri,dan Hasnan Singodimayan melukiskanbahwasejakperistiwa yang menggeger‐kanituseluruhmasyarakatBanyuwangitidak mau mementaskan gandrung danmendendangkan lagu‐lagu Banyuwangen dengan berbagai alasan. Di antaraalasan tersebut adalah ketakutan danmenganggap bahwa kesenian maupunlagu‐lagu itu adalah komunis, meskipunsebelumnyamerekamenjadipenggemardanpenontonsetianya.Itulahsebabnyamengapa Fatrah Abal bersikukuh mere‐kam lagu‐lagu ciptaannya dengan iring‐anorkesmelayudanmeragukanimbau‐an Supaat untuk mempergunakan ang‐klungsebagaipengiringnya.Dorongan dan kebijakan politik lo‐kal Djoko Supaat Slamet membangkit‐kankesenian Banyuwangenmemangsa‐ngat penting dalam sejarah gandrunghingga digemari kembali oleh masyara‐kat Banyuwangen, tetapi beberapa ke‐cenderungan sosial dan politik baru didaerah itu juga ikut menentukan peru‐bahan tersebut. Dari kasus‐kasus mikroterlihat, seperti dituturkan Hasan Basri,seorang Guru SMPN 1 Banyuwangi, ATAVISME,Vol.16,N ,EdisiDe ber201bahwa rekaman lagu‐lagu kendangkempulo.2 sem 3183—1 19093LagudalamSeniPertunjukandanIndustriKreatifRevitalisasiHibridPotts & Cunningham 2008 menawar‐kanempatmodelterkaitsistemdanme‐kanismeindustrikreatif.Pertama,modelkesejahteraanmerupakanjejaringpeng‐gerak pada sektor ekonomi, meskipunmembutuhkanbiayabesar,yangmampumemberikankontribusi menyeluruh ba‐gipeningkatankesejahteraansecarapo‐sitif. Dengan model ini, industri kreatifmelibatkan proses produksi komoditasdengan nilai kultural tinggi, namunmenghasilkannilaipasarrendahataubi‐sa kurang menguntungkan. Untuk bisamemastikankesejahteraandalamkondi‐si demikian, dibutuhkan kebijakan ne‐garayangdipusatkankepadapengaloka‐sian kembali pendapatan dan sumberdayaataupengendalianhargaagarbisamelindungi aset kultural berharga. Ke‐dua,modelkompetisi mengabaikannilaikulturaldariprodukyangdihasilkanin‐dustrikreatifkarenamerekapadadasar‐nya hanya “industri” yang membutuh‐kan kompetisi dan pasarlah yang me‐nentukan baik‐buruknya. Segala keun‐tunganyangbisameningkatkankesejah‐teraan para kreator atau seniman/watidiperoleh dari kompetisi pasar. Ketiga,model pertumbuhan mengidealisasi re‐lasiekonomipositifantarapertumbuhansektorindustrikreatifdansektorekono‐misecara umum.Artinya, industrikrea‐tif mampu memperkenalkan ide‐ide ba‐ruyang bisa mempengaruhisektor‐sek‐torlainatauindustrikreatifbisamemfa‐silitasiprosesadopsidanpenguatanideatausertateknologibarudisektorlain.Keempat,modelinovasimengasumsikanindustrikreatifmampumemunculkandanmengkoordinasikanperubahaneko‐nomiberbasis pengetahuan. Signifikansiindustri kreatif bukanlah pada kontri‐busirelatifterhadapnilaiekonomi,teta‐pikontribusimerekabagikoordinasiideatauteknologibaru,sehinggaikutpulamempengaruhiprosesperubahan.Keha‐diran rnet, misalnya, mdi Genteng yang memadukanirama gandrung dan kasidah,menonjolkan lirik‐lirik bahasa agamaIslam, dan mempergunakan bahasaUsing membuat orang Banyuwangibersedia menerima kembali lagu‐laguBanyuwangi.Hal itu diperkuat oleh Golkarisasiyangsaatitumerasuksampaipedesaan.GolkarisasidiBanyuwangidanmungkinjugadidaerahlain,sangatmemengaruhiorang Banyuwangi dalam mempertim‐bangkan banyak hal dari sudut agamaataudengankatalainmengurangikon‐sentrasi berpikir tentang purifikasi danortodoksiagama Islam. “Golkarisasidisini berarti sekularisasi dan memenga‐ruhi semua aspek keberagamaan orangBanyuwangi,”jelas HasanBasri. Dengandemikian,jikawaktuituorangBanyu‐wangimenolak lagu‐lagu Using yangdi‐klaim sebagai komunis hanya karenabertentangandengan agama, makaketi‐ka konsentrasi tentang purifikasi pudar,orang Banyuwangi menerima kembalilagu‐ Using dan tidak memperten‐tang adenganagama.lagukanny inte enghadirkanbanyakperubahanmodel Banyuwangen kontemporertahun 2000‐an mengkaji strategi paramusisi Banyuwangi dalam mengemaskekayaan lagu daerah dengan nuansamusik modern sehingga menghasilkanprodukbernuansahibrid.Hampirsemualagu dalam pertunjukan Gandrung da‐lam versi apapun disco, dangdut, danremixbanyakdijualdikios‐kioskaset.Disampingitu,lagu‐lagugandrungjugater‐sedia lagu‐lagu JangerJinggoan,Kuntulan,danAngklung.Sampaisaatini,lebih dari sepuluh perusahaan rekamantelahberoperasidiBanyuwangi,sepertiAnekaSafariRecord,SandiRecord,KatulistiwaRecord, ScorpioRecord, danGemini Record. Hampir pasti RevitalisasiSastradanBudperu e duk‐silag aya...asi modernitas masyarakat anyu‐wangi.Aspek penciptaan menjadi sangatpentingdalamindustrikreatif,untuk ituada beberapa model dalam pengem‐bangannya, pertama, menekankan padarevitalisasi tradisi lokal yang menjadiinspirasi penciptaan lagu‐lagu yangmengambil dari syair‐syair klasik ritualseblangdan gandrung; kedua, memadu‐kanlagu‐lagudalam keseniantradiside‐ngan pertunjukannya, seperti gandrung,jinggoan,danangklung, dan ketigalebihmenekankan pada eksplorasi keinginanpasardengantetapmentransformasike‐lokalan. Beberapa model ini diharapkanmampu menjadi dasar berkembangnyaekonomi kreatif bagi penggiat seni danmasyarakatBanyuwangi.NoviAnoegrajekti191sahaankasettersebut m mprou‐lagu tradisiBanyuwangi.Musik dengan lagu‐lagu disco, kendangkempul,danpatrollebihbanyakdi‐terima banyak kalangan. Menurut pe‐ngakuan Ahmad Ahyani, sekitar tahun2000,diameramu musik tradisidenganwarna musik yang lain. Dalam albumKangenBanyuwangi,DiscoEthnic2000GandrungTemumenyanyikanlaguyangberjudul“OjoCilikAti”dalamversidisco.“Inibagiandarimenciptakanselerapasar,” ungkapnya. Di luar dugaan, al‐bum tersebut mendapat sambutan luarbiasa dari masyarakat. Dalam sebulan kaset yang diproduksi terjualQomariah,2008108.BahkanbeberapalaguyangdiedarkanolehAnekaSafarihingga pertengahan tahun 2005 seperti“Layangan”, “Tetese Eluh”, “Semebyar”,dan“TelongSegoro”mampumenembusangka masih tetap berlangsung. Halinimenunjukkan peredaranyang cukupfantastis untuk ukuran album yangdiedarkanditingkatlokaltanpapromosibesar‐ Rekaman dalam format ca‐kram digital CD, di satu sisi, menjadimedium baru bagi para musisi untukmasuk ke dalam dalam jagat industrimodern. Di sisi lain, format tersebutmenjadi siasat para musisi Banyuwangiuntuk terus menegosiasikan budaya lo‐kalBanyuwangi di tengah‐tengahtrans‐form BSIMPULANSyair‐syair dalam seni pertunjukan tra‐disidannilai‐nilaisimboliknyadiperjual‐belikandipasarmeleburdalamkomodi‐fikasisimbolikkekuasaan.Sifatidentitasyang constructeddan kontekstual  me‐nyebabkan representasi identitas tidakpernahtunggaldanstatis.Haliniterbacadalam syair‐syair dalam pertunjukanGandrung, Angklung, dan Jinggoan.Identitas Using yang ditegakkan dengankonservasitradisidalamsetiappertun‐jukan akhirnya lebih berbentuk proyekpolitik yang diciptakan dalam kontekspergulatanpolitikdanekonomidiBanyuwangi.  Dalam berbagai ekspresilintasbudaya,perebutankepentinganlo‐kal, nasional, dan global berkontestasidan terus saling berinteraksi secara di‐namis untuk diartikulasikan sebagai ge‐rak kebudayaan. Lagu “Pada Nonton”,“Sekar Jenang”, yang wajib dibawakansaatJejerGandrungtiba‐tibamengalamireproduksi makna ketika lagu tersebutmulai direkam, dipasarkan, dan diper‐dengarkan setiap saat. Sebagai sebuahproduk,budayabarumerupakanbentukperpaduan dan harmonisasi yang dicip‐takanmelaluikebijakan pemerintah dankapitaldalammempertemukanmodern‐itas danlokalitas dalamruang negosiasiyangterus‐menerus.1. Artikel ini disunting dari makalah yang ber‐judul“SastraLokaldanIndustriKreatifRevi‐talisasiSastradanBudayaUsingBerbasisLo‐kalitas” yang saya presentasikan pada “Se‐minar Nasional Bahasa dan Sastra” tanggal ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember2013183—19319212—13September 2012, di Badan Pengem‐bangan dan Pembinaan Bahasa, Kementeri‐anPendidikandanKebudayaan.2. Proyek‐proyekpariwisatadisetiapdaerahdiIndonesia selalu berkaitan dengan alam, et‐nik, dan kebudayaan. Selanjutnya lihat, an‐taralain Logman, 1994; ValeneSmith,”Introduction”, dalam Valene I Smithed. HostandGuestsTheAnthropologyofTourism USA Universitas of Pennsylvaniapress,1977.3. Dengan tekanannya pada penonjolan Using,proyekinimendapatbanyakkritikdanmen‐jadibagiandaripertarunganpolitikdiBanyuwangi.Proyekinidipandangterlalumemihak pada salah satu etnis Using yangberartitidaksesuaidenganpluralitasetnisdiBanyuwangi.4. Selanjutnyalihat,makalah“PatungGandrungdanUlarBerkepalaGatotKacaMitos,Pem‐bongkaran Tanda, dan Representasi Identi‐tas Using,” dalam Prosiding Seminar Nasio‐nal Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan,Depok Departemen Linguistik FIBUniversitas Indonesia, 30 Mei 2012, hal.295.5. Selanjutnya lihat “Upaya Pelestarian Keseni‐anGandrungBanyuwangidieraGlobalisasi”,makalah oleh Tim Yayasan KebudayaanBa‐nyuwangi, disampaikan pada Seminar HaribJadi dan Ke udayaan Banyuwangi, ProspeksertaPengembangannya,21April1994.6. Selanjutnya lihat Novi Anoegrajekti “Keseni‐an Using Resistensi Budaya Komnitas Ping‐igir” dalam Keb jakan Kebudayaan, JakartaPMBLIPI,2001.7. Tenaga kreatif yang terlibat dalam prosesproduksi dan distribusi sekitar 15 orang te‐naga tetap, sementara yang freelanceArieSandi tidak mencatatnya, karena silih ber‐ganti datang dan pergi,  khususnya yang ter‐libatdalamaransemen musik. Data tersebutbelum yang termasuk jumlah mereka yangbekerjadiAnekaSafariRecorddanKhatulistiwaRecord.Datatersebutmenun‐jukkan bahwa industri kreatif musik di Ba‐nyuwangi mempunyai potensi untuk meng‐gerakkan ekonomi kreatif karena mampumenyerap tenaga kerja dan bisa menum‐buhkan modal lokal. Selanjutnya lihat, AgusSariono, dkk. “Rancak Tradisi dalam GerakIndustri Pemberdayaan Kesenian Tradisi‐Lokaldalam Perspektif Industri Kreatif”, La‐poran Penelitian Jember UniversitasJember,2009,hlm.131.8. Selanjutnya lihat, “Banyuwangi Bernyanyiendiri,” Rubrik Kehidupan, Kompas, 13ebruari2005.SFDAFTARPUS AKAAnoegrajekti, Novi. 2001. “KesenianUsing Resistensi Budaya Komuni‐tas Pinggir” dalam KebijakanKebuTdayaandiMasaOrdeBaru. JakartaPMB‐LIPI.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2007. “Patung itu Bukan Penari,”dalam PenariGandrungdanGerakSosialBanyuwangi. Jurnal Srinthil.MediaPerempuanMultikulturalNo.12.DepokDesantara.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2010. “Tradisi Basanan danWangsalanWarungBathokanEdu‐kasidanIdentitasMasyarakatUsing,” dalam WacanaAkademika.Majalah Ilmiah Kependidikan Univ.Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3,No.8,Juli2010.‐‐‐‐‐‐‐‐.2013.“PatungGandrungdanUlarBerkepala Gatot Kaca Mitos, Pem‐bongkaranTanda,danRepresentasiIdentitas Using,” Makalah dalamProsiding Seminar NasionalSemiotik,Pragmatik,danKebudayaan.De‐ Linguistik FIB esia.pok DepartemenUniversitas IndonBarker, Chris. 2000. CulturalStudiesTheoryandPractice. London SagePublications.Budianta, Melani. 2008. “Aspek LintasBudaya dalam Wacana Multikultu‐ral,” dalam KajianWacanadalamdanKonteksMultikultural  Multidisiplin.JakartaFIBUI.Hall,Stuart. 1993. “CulturalIdentity andDiaspora,” dalam Patrick Williamsand Laura Chrisman eds. Colonial/DiscourseandPostcolonialTheory.NewYorkHarvester Wheatsheaf.‐‐‐‐‐‐‐‐. 1997. “The Work of Representa‐tion”dalamRepresentationCulturalRepresentationsandSignifyingPractices.LondonSagePublication. RevitalisasiSastradanBudPotts,Jason &StuartCunningham.2008.“Fourmodels of the creative indus‐rnationalJournalofubmittedaya...Singodimayan, Hasnan, et al.2003. GanyBanyuwangiNoviAnoegrajekti193tries”,dalamInteCulturalPolicy.SPrimorac,Jaka.2005.ThePositionofCulturalWorkersinCreativeIndustriesSoutheasternPerspectives.ZagrebEuropeanCulturalFoundation.Richardson,Diane.“LocatingSexualities o ty”,dalamJur‐FromHere toN rmalinalSexualities,Vol74,2004.Saputra, Heru. 2011. FolklorUsingBanyuwangi.JemberFakultasSas‐traUniversitasJember.Sariono, Agus, et al. 2009. “Rancak Tra‐disi dalam Gerak Industri Pember‐dayaan Kesenian Tradisi‐Lokal da‐lamPerspektifIndustri Kreatif”. La‐.poran Penelitian. Jember Universi‐tasJember Singodimayan, Hasnan. 1990. “WarungBathokan Sisi Lain Tradisi Masya‐rakatOsing”dalamSurya,3Novem‐ber.drungBan uwangi.DewanKesenianBlambangan.Spradley, James P. 1997. MetodeEtnografi.YogyakartaTiaraWacana.Tim Yayasan Kebudayaan Banyuwangi.1994. “Upaya Pelestarian KesenianGandrungBanyuwangidieraGlo‐balisasi,” makalah disampaikan pa‐daSeminarHariJadidanKebudaya‐nanBanyuwagi,ProspeksertaPengembangannya,21April1994.Tomic‐Koludrovic, Inga & Mirko Petric.2005. “Creative Industries in Tran‐sitionTowardaCreativeEconomy,”dalam Nada Svob‐Dokic ed.. TheEmergingofCreativeIndustriesinEuropeSoutheastern. ZagrebInstituteforInternationalRelations.Qomariyah, Nunung. 2008. “Industriali‐sasiRekamandanNasibSenimanTradisi,”dalamEtnografiGandrungPertarunganIdentitas. Depok De‐santara. ... Oral tradition is one of the main objects that can be developed to produce creative products. The creative industry is intended as a system and economic practice based on knowledge and creativity [10]. Therefore, YouTube and Instagram social media were chosen for this study. ...This study aims to understand and explore the enduring values in the Using ethnic literature at the eastern end of Java, especially in the context of ritual discourse. By applying an ethnographic approach, especially the emic perspective, data were collected using participatory observation and in-depth interview techniques. Participatory observations were made of the Seblang Olehsari and Seblang Bakungan ritual processions, while in-depth interviews were conducted with 10 informants. Data were analyzed using orality and liminality techniques, and then cultural interpretations were carried out to obtain the meaning of locality values in the context of modern society. The results show three important dimensions dimension of excellence, liminality, and locality, which reflected the cultural ideology of safety in the union of microcosms and macrocosms. Thus, the existence of the values of local wisdom in the Using ethnic literature is still relevant in today's social life so that it is still functioning until now in the context of modern society. The dominant element of Using ethnic literature is the formation of traditional social institutions that lead to social safety and harmony, both in vertical microcosms and horizontal relationships macrocosms,a combination of the three SungkowatiAbstrakPenelitian ini bertujuan membahas bagaimana alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” dan perubahan yang terjadi dalam alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi produk industri kreatif. Teori yang digunakan adalah alih wahana dan sastra bandingan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, baik cetak maupun digital. Penelitian dilakukan selama enam bulan April—September 2021 di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi kerajinan berupa patung dan miniatur patung masih mempertahankan tokoh dan tema utama perkelahian Sura dan Baya. Alih wahana dalam bentuk desain batik, kaos, dan berbagai merchandise lainnya masih mempertahankan tokoh utama Ikan Sura dan Baya, namun dengan perubahan-perubahan pada tema, tidak lagi hanya tentang perkelahian tetapi juga persaudaraan. Perubahan paling banyak terjadi pada alih wahana menjadi sinematografi dalam film animasi Grammar Suroboyo dan Culoboyo. Kata kunci sastra, industri kreatif, alih wahana, sastra bandingan AbstractThis study aims to discuss how is the transformation of story “The Origin of Surabaya” and the changes in transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into creative industry products. It uses transformation and comparative literary theory. The collection of data is done by observation, interview, and dokumentation study, both print and digital. This research is conducted during six months April-September 2021 in Surabaya. Data analysis was carried out by comparison method. The results show that transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into crafts in the form of sculpture and miniature statues still maintain character and main theme of Sura and Baya fight. Transformation in the form of batik design, shirt, and other merchandises still maintain main character Sura fish and Baya, but with many changes to a theme, no longer just about fighting but also brotherhood. The most changes occured in the transformation into chinematography in animated Grammar Suroboyo and Culoboyo. Keywords literature, creative industry, transformation, comparative literary theoryDalam perkembangan media, terutama maraknya penggunaan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Youtube, banyak masyarakat Using yang memanfaatkan media sosial tersebut untuk mengungkapkan isi hati dengan menggunakan basanan. Makna yang penting dari dinamika peradaban ini bagi masyarakat Using, bahwa kelisanan primer kini telah memasuki kelisanan sekunder atau kelisanan berbasis digital. Hal ini menjadi cerminan dinamika kebudayaan study aims to discuss the lyrics of the Basanan song by Nurdian, sung by Catur Arum and posted on the Youtube channel, interprets the Using Banyuwangi culture in the context of secondary orality. This study uses a qualitative method with an oral approach to analyze the formula and oral characteristics in the text of the Basanan song. The results showed that the text of the Basanan song contained the tautotes repetition formula, mesodiplosis repetition formula, anaphora repetition formula, and showed formulaic expressions. The language characteristics in the Basanan text are the characteristics of spoken language because they are additive and aggregative. The substance of the text of the Basanan song reflects the cultural condition of the Using community. In the development of media, many Using people use social media to express artistic expression and for financial gain. The significance of the dynamics of civilization for the Using people is that the primary oral language has now entered the secondary oral language and has become a popular cultural product for the Using people, Banyuwangi, reflecting the dynamics of their civilization. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang lirik lagu Basanan karya Nurdian yang dinyanyikan Catur Arum dan diposting di kanal Youtube memaknai budaya Using Banyuwangi dalam konteks kelisanan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lisan untuk menganalisis rumus dan ciri lisan dalam teks lagu Basanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks lagu Basanan mengandung rumus pengulangan tautotes, rumus pengulangan mesodiplosis, rumus pengulangan anafora, dan menunjukkan ekspresi rumus. Ciri kebahasaan dalam teks Basanan merupakan ciri bahasa lisan karena bersifat aditif dan agregatif. Substansi teks lagu Basanan mencerminkan kondisi budaya masyarakat Using. Dalam perkembangan media, banyak orang Using menggunakan media sosial untuk mengekspresikan ekspresi seni dan untuk keuntungan finansial. Arti penting dinamika peradaban bagi masyarakat Using adalah bahwa bahasa lisan primer kini telah memasuki bahasa lisan sekunder dan menjadi produk budaya populer bagi masyarakat Using, Banyuwangi, yang mencerminkan dinamika HALLA new cinema of the Caribbean is emerging, joining the company of the other 'Third Cinemas'. It is related to, but different from the vibrant film and other forms of visual representation of the Afro-Caribbean and Asian 'blacks' of the diasporas of the West - the new post-colonial subjects. All these cultural practices and forms of representation have the black subject at their centre, putting the issue of cultural identity in question. Who is this emergent, new subject of the cinema? From where does he/she speak? Practices of representation always implicate the positions from which we speak or write - the positions of enunciation. What recent theories of enunciation suggest is that, though we speak, so to say 'in our own name', of ourselves and from our own experience, nevertheless who speaks, and the subject who is spoken of, are never identical, never exactly in the same place. Identity is not as transparent or unproblematic as we think. Perhaps instead of thinking of identity as an already accomplished fact, which the new cultural practices then represent, we should think, instead, of identity as a 'production', which is never complete, always in process, and always constituted within, not outside, representation. This view problematises the very authority and authenticity to which the term, 'cultural identity', lays claim. We seek, here, to open a dialogue, an investigation, on the subject of cultural identity and representation. Of course, the 'I' who writes here must also be thought of as, itself, 'enunciated'. We all write and speak from a particular place and time, from a history and a culture which is specific. What we say is always 'in context', positioned. IKesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi girNovi SelanjutnyaAnoegrajektiSelanjutnya lihat Novi Anoegrajekti "Kesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi gir" dalam Keb jakan Kebudayaan, Jakarta PMB LIPI, 2001.Banyuwangi Bernyanyi endiriSelanjutnyaSelanjutnya lihat, "Banyuwangi Bernyanyi endiri," Rubrik Kehidupan, Kompas, 13 ebruari Penari Gandrung dan Gerak Sosial BanyuwangiNovi AnoegrajektiAnoegrajekti, Novi. 2001. "Kesenian Using Resistensi Budaya Komunitas Pinggir" dalam Kebijakan Kebu T dayaan di Masa Orde Baru. Jakarta PMB-LIPI. -. 2007. "Patung itu Bukan Penari," dalam Penari Gandrung dan Gerak Sosial Banyuwangi. Jurnal Srinthil. Media Perempuan Multikultural No. 12. Depok Desantara. -. 2010. "Tradisi Basanan dan Wangsalan Warung Bathokan Edukasi dan Identitas Masyarakat Using," dalam Wacana Akademika. Majalah Ilmiah Kependidikan Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3, No. 8, Juli 2010. -. 2013. "Patung Gandrung dan Ular Berkepala Gatot Kaca Mitos, Pembongkaran Tanda, dan Representasi Identitas Using," Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Semio tik, Pragmatik, dan Kebudayaan. De-Linguistik FIB esia. pok Departemen Universitas Indon Barker, Chris. 2000. Cultural Studies Theory and Practice. London Sage Lintas Budaya dalam Wacana MultikulturalMelani BudiantaBudianta, Melani. 2008. "Aspek Lintas Budaya dalam Wacana Multikultural," dalam Kajian Wacana dalam dan Konteks Multikultural Multidi siplin. Jakarta FIB UI.

bagaimana cara memadukan budaya lokal dengan industri kreatif